SURAKARTA, CAKRAWALA — Persoalan tata kelola persampahan di Kota Surakarta kembali menjadi sorotan. Pencemaran lingkungan, timbulan sampah yang mencapai sekitar 300 ton per hari, serta beban pengelolaan di TPA/PLTSa Putri Cempo mendorong kolaborasi mahasiswa dan pemuda untuk mengambil langkah aksi nyata. Melalui inisiasi dari BEM UNS, Indika Foundation, dan Bijak Memantau, rangkaian kegiatan Surakarta Youth Summit (SYS) 2026 sukses digelar pada 19 September, 28 September, dan 9 Oktober 2026 dengan melibatkan 60 peserta mahasiswa se-Surakarta.
Inisiasi ini diawali dari Program Kampus Bijak yang digagas oleh Bijak Memantau. Khoirunnajib Berliansyah, Penggerak Bijak sekaligus Menteri Analisis Strategis BEM UNS 2026, bersama tim merumuskan aksi nyata advokasi kebijakan berbasis data.
“Mahasiswa perlu berperan tidak hanya dalam perubahan perilaku, tetapi juga mengawal kebijakan melalui advokasi berbasis data, salah satunya melalui penyusunan Kajian Rekomendasi dan audiensi dengan pemerintah,” ujar Khoirunnajib.
Rangkaian Kegiatan Aksi Nyata
Rangkaian kegiatan SYS 2026 dirancang terstruktur mulai dari peningkatan kapasitas hingga penyampaian aspirasi ke pemangku kebijakan:
- Bimbingan Teknis (19 September 2026) Dilaksanakan di Aula lantai 2 Mawa UNS, peserta dibekali materi advokasi kebijakan, penyusunan Kajian Rekomendasi berbasis data, serta strategi komunikasi advokasi sebagai fondasi sebelum menemui pemangku kebijakan.
- Surakarta Youth Summit & Touchbase Diskusi DPRD (28 September 2026) Peserta mengikuti sesi diskusi bersama organisasi non-pemerintah (NGO/LSM) di Nurul Huda Islamic Center untuk memperluas perspektif isu sosial dan lingkungan. Sore harinya, acara dilanjutkan dengan Touchbase: Diskusi dan Aspirasi di Gedung DPRD Kota Surakarta bersama Sekretaris Komisi III DPRD Surakarta, Bapak Sonny, S.T..
- Aksi Nyata dan Audiensi DLH (9 Oktober 2026) Puncak kegiatan diisi dengan audiensi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta. Mahasiswa menyerahkan dokumen Kajian Rekomendasi yang menekankan penghentian open dumping, optimalisasi PLTSa, pemantauan kualitas lingkungan, penguatan pengelolaan sampah B3, hingga edukasi pemilahan sampah dari sumber.
Respon Pemangku Kebijakan & Para Tokoh
Sesi diskusi di Gedung DPRD mengungkap tantangan nyata persampahan Surakarta, di mana timbulan sampah harian mencapai 300 ton, sementara kapasitas pengolahan saat itu sekitar 80 ton per hari.
Sekretaris Komisi III DPRD Surakarta, Sonny, S.T., menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah:
“Penanganan persoalan sampah perlu dimulai dari hulu, terutama melalui pembiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya. Selain peningkatan kapasitas pengolahan, edukasi masyarakat dan pengembangan bank sampah dinilai penting untuk mengurangi beban sampah yang berakhir di TPA Putri Cempo,” ungkap Sonny. Beliau juga menyampaikan adanya dukungan dana hibah Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) senilai Rp107.116.800.000 dari Kemendagri untuk mengatasi persoalan persampahan.
Sementara itu, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta mengapresiasi masukan dari mahasiswa. DLH menyampaikan bahwa berbagai upaya pemantauan dan pengelolaan telah berjalan, meski masih menghadapi kendala anggaran serta tantangan koordinasi pengangkutan agar sampah yang telah dipilah warga tidak kembali tercampur.
Dukungan terhadap aksi advokasi ini juga datang dari koalisi masyarakat sipil:
- Esther Setianingrum, S.Si., CHCSA., C.Med. (LBH Solo): “Jangan takut bertindak, melawan dan bersuara terkait hak, sebab kita dilindungi undang-undang dan Tuhan. Lakukan hal baik dan benar.”
- Dimas Muhammad Fajar, S.H. (BEM Solo Raya): “Jangan pernah diam dan tunduk kepada pemerintah. Terus bersuara dan berjuang.”
- Azalya Tilaar, S.Si. (WALHI): “Mahasiswa harus bisa mengadvokasi masyarakat yang ingin memperjuangkan hak untuk hidup layak dan bersih.”
Harapan Masa Depan
Ketua Panitia Surakarta Youth Summit 2026, Ahmad Faza Sirojuddin, berharap komitmen ini tidak berhenti hanya di akhir forum:
“Harapannya peserta dan panitia yang terlibat bukan hanya sekedar menjalankan program ini sebagai formalitas dan berhenti pada selesainya rangkaian kegiatan saja, tetapi juga mampu mengawal isu sampah secara berkelanjutan dan mampu memberikan kebermanfaatan berupa motivasi serta menjadi contoh bagi masyarakat sekitar,” tuturnya.
Melalui sinergi antara mahasiswa, pemerintah, DPRD, dan organisasi masyarakat sipil, Surakarta Youth Summit 2026 diharapkan dapat mewujudkan tata kelola persampahan di Kota Surakarta yang lebih partisipatif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
