SEMARANG, CAKRAWALA — Menjadi jurnalis sekaligus pasien jaminan kesehatan nasional di kota sendiri memberikan perspektif yang unik. Di satu sisi, kita melihat bagaimana sistem digitalisasi kesehatan digembar-gemborkan. Di sisi lain, kita merasakan sendiri bagaimana realitas di lapangan kadang tak seindah layar aplikasi.
Pada Sabtu, 16 Mei 2026, saya melangkah ke Rumah Sakit Swasta Hermina Banyumanik Semarang. Berbekal surat rujukan dari faskes pertama untuk tindakan rekam jantung dan nomor antrean yang sudah meluncur di aplikasi Mobile JKN, saya membayangkan sebuah proses yang ringkas. Namun, kenyataan berkata lain. Pengalaman pertama saya di rumah sakit ini berubah menjadi ujian kesabaran sepanjang 5,5 jam.
Labirin Antrean dan Misteri Mobile JKN
Tiba pukul 13.50 WIB di lantai 6, kebingungan pertama dimulai. Meski sudah menggenggam pendaftaran online, saya tetap harus menghadapi antrean manual yang mengular. Hanya ada dua petugas pendaftaran yang harus melayani puluhan kepala yang terus bertambah. Pertanyaan mendasar pun muncul di kepala saya saat itu: Lalu apa gunanya integrasi Mobile JKN jika ujung-ujungnya pasien harus berebut ruang di antrean konvensional?
Proses administrasi dan tensi memakan waktu hampir 1,5 jam, disusul masa tunggu poli selama 1 jam. Pelayanan medis dari dokter dan perawat di dalam ruangan sebenarnya sangat baik, profesional, dan cekatan—wawancara dan rekam jantung selesai dalam waktu 30 menit.
Namun, badai sesungguhnya baru dimulai saat saya melangkah ke bagian Farmasi.
Di sinilah stagnasi total terjadi. Bayangkan, ada 12 poli dengan ratusan pasien yang keluar setiap jamnya, namun loket farmasi sore itu hanya digerakkan secara aktif oleh dua orang staf (satu memanggil nama, satu menyusun obat). Satu petugas lain tampak sibuk di depan komputer dan telepon.
Dampaknya? Saya—dan ratusan pasien lainnya, termasuk lansia dan mereka yang datang dari tempat jauh—harus terjebak menunggu obat selama lebih dari 4 jam. Saya baru bisa keluar dari rumah sakit pukul 18.30 malam. Bagi pasien yang tidak tahan, mereka terpaksa meninggalkan resep untuk diambil hari berikutnya. Sebuah pilihan sulit bagi mereka yang rumahnya tidak sedekat saya.
Respons Cepat dan Klarifikasi Manajemen
Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, saya mengirimkan surat keluhan resmi kepada manajemen RS Hermina Banyumanik pada 17 Mei 2026. Tanggapan yang datang terhitung cepat. Pada Rabu, 20 Mei 2026, pihak perwakilan rumah sakit, Taufiq, menghubungi saya secara langsung untuk menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf.
Dari penjelasan Taufiq, terungkap bahwa ada kendala operasional dan miskomunikasi di lapangan. Di area pendaftaran lantai 6, seharusnya ada petugas khusus yang berjaga di dekat mesin pendaftaran otomatis di sebelah kanan loket.
“Pasien yang sudah mendaftar via Mobile JKN seharusnya bisa langsung memindai kode di mesin otomatis tersebut, lalu langsung diarahkan ke bagian perawat untuk tensi dan timbang badan, tanpa harus ikut mengantre di loket manual,” jelas Taufiq kepada saya.
Terkait krisis di bagian farmasi, manajemen RS Hermina Banyumanik mengakui adanya keterlambatan dan berjanji melakukan pembenahan internal. Sebagai solusi konkret untuk mengurai penumpukan di masa depan, Taufiq menyampaikan bahwa pihak rumah sakit akan segera meluncurkan Program Layanan Antar Obat ke Alamat Pasien. Solusi ini tentu menjadi angin segar, terutama bagi pasien lansia atau mereka yang terkendala jarak.
Mengawal Janji Perbaikan
Sebagai penulis catatan ini sekaligus pasien yang merasakan langsung dampaknya, saya mengapresiasi sikap terbuka dan responsif dari manajemen RS Hermina Banyumanik. Mereka memilih untuk mendengar, menelepon, dan menawarkan solusi alih-alih bersikap defensif.
Namun, tulisan ini tidak berhenti sampai di sini. Cakrawala Media akan tetap menempatkan diri sebagai mata dan telinga masyarakat Kota Semarang. Kami akan mengawal bersama apakah penempatan petugas di mesin otomatis JKN dan program antar obat tersebut benar-benar diwujudkan dan berjalan efektif di lapangan.
Karena pada akhirnya, rumah sakit adalah tempat orang mencari kesembuhan, bukan tempat untuk menambah letih dalam antrean yang tak berujung.
