Artikel Opini Pilihan redaksi
Home » Mari Bersepeda

Mari Bersepeda

Foto: Himbauan gubernur untuk bersepeda, deretan mobil dinas parkir di halaman gubernuran dengan mesin menyala

Di Gedung Gradhika, Senin itu baru saja melahirkan sebuah janji. Di dalam ruang pertemuan yang dingin, para pemimpin daerah berkumpul, menandatangani pakta integritas dengan khidmat. Mereka bicara tentang efisiensi, tentang seruan untuk mengayuh sepeda, tentang berjalan kaki ke kantor, atau bahkan berlari pulang-pergi demi menghemat tetes-tetes BBM yang berharga.

Mendengarnya, mungkin kita ingin memberi tepuk tangan. Sebuah niat yang luhur, bukan?

Namun, mari kita bergeser sedikit ke area parkir di luar sana. Siang itu cuaca begitu terang. Matahari pancaroba di awal kemarau seperti sedang membakar habis area parkir kantor gubernur. Aspal mendidih, dan udara Semarang terasa menebal. Di sana, sebuah realitas yang berbeda sedang berlangsung. Puluhan mobil dinas hitam berjejer rapi, namun mesinnya tak ada yang mati. Knalpot-knalpot itu terus mengepulkan asap tipis ke udara yang sudah panas, seolah-olah mereka sedang merayakan pesta kecil dalam sunyi.

Seorang sopir—mungkin yang paling jujur di antara semuanya—berbisik dengan lugu saat ditanya mengapa mesin tak dimatikan, “Mesinnya harus tetap nyala, Pak, buat nyalakan AC. Supaya nanti pas Bapak keluar dari acara, masuk mobil rasanya langsung ceesss… dingin.”

Ah, betapa manisnya pengabdian itu.

Kumpulkan Kepala Daerah dan DPRD, Ahmad Luthfi Ajak Bersama-sama Bangun Kesadaran Antikorupsi

Ada tontonan yang jenaka sekaligus memilukan di sana. Di dalam gedung, mereka merumuskan kebijakan tentang efisiensi dan masa depan energi yang harus dijaga. Namun tepat di bawah hidung mereka, di area parkir, kebiasaan lama tetap bertahta. Ini adalah sebuah kontradiksi yang telanjang: niat penghematan energi yang konon hendak diniatkan dengan susah payah, nyatanya kalah telak oleh keinginan untuk tetap merasa sejuk.

Para sopir pejabat memastikan seker mesin mobil harus terus bergerak, berputar tanpa henti membakar bahan bakar secara cuma-cuma, hanya demi memastikan kulit sang majikan tidak tersentuh suhu udara yang jujur—suhu pancaroba yang juga dirasakan oleh rakyat yang mereka minta untuk berhemat.

Kita tentu tidak ingin berpikiran buruk. Mungkin saja, mobil-mobil itu sedang reyen, atau sedang melatih ketahanan mesin agar tidak kaget saat harus menghadapi kemacetan kota. Siapa tahu?

Namun, melihat deretan mobil yang “bernafas” di parkiran yang membara itu, sulit untuk tidak tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tak sampai ke mata. Kita sedang diajak berhemat oleh mereka yang bahkan tak sanggup mematikan mesin saat parkir. Kita diajak mengayuh sepeda di bawah terik matahari, sementara kursi-kursi di kabin mobil dinas itu sudah dipastikan tetap beku oleh AC yang tak pernah istirahat.

Mungkin, itulah cara para penguasa kita berkomunikasi dengan kita: mereka membiarkan mesin mobil tetap menyala, agar kita tahu betapa sibuknya mereka merumuskan kebijakan yang, sayangnya, sering kali berakhir di tempat parkir—sebelum sempat dikayuh menjadi aksi nyata.

KPK Akan Usulkan Anggaran Operasional Kepala Daerah Dari At Cost Menjadi Lumpsum

Di parkiran Gradhika, mesin mobil tetap menderu di bawah terik kemarau. Dan integritas? Ah, integritas mungkin sedang parkir di tempat yang dilarang, menunggu tuannya selesai rapat, entah sampai kapan.