KENDAL, CAKRAWALA – Ketika rembulan Ramadan menggantung tinggi di langit Kendal, denyut nadi kehidupan di Kaliwungu justru semakin kencang berdetak saat malam semakin larut. Di saat kota-kota lain mulai mematikan lampu dan beristirahat, masyarakat di “Kota Santri” ini justru berbondong-bondong melangkahkan kaki menuju sebuah titik sakral yang dikenal dengan sebutan Jabal Kunthul Nglayang.
Sebutan ini bukan sekadar nama, melainkan sebuah simbol filosofis tentang ketinggian derajat spiritual yang dicapai melalui laku batin para ulama terdahulu.
Perjalanan spiritual ini dimulai sesaat setelah gema doa salat Tarawih mereda. Ribuan peziarah, mulai dari anak-anak yang digandeng erat orang tuanya hingga para lansia yang masih tangguh meniti tangga, mulai mendaki lereng perbukitan tersebut.
Jabal Kunthul Nglayang menjadi magnet utama karena di puncaknya bersemayam para tokoh besar penyebar Islam di tanah Jawa, termasuk Sunan Katong dan Kiai Asy’ari atau Kiai Guru.
Bagi masyarakat setempat, menziarahi makam-makam ini di bulan Ramadan adalah cara terbaik untuk menyambung sanad spiritual dan melakukan refleksi mendalam di tengah suasana yang sunyi namun penuh khidmat.
Suasana di sepanjang jalur pendakian menawarkan harmoni yang unik antara kekhusyukan dan keramaian. Di satu sisi, telinga akan menangkap gemuruh lembut lantunan surat Yasin dan selawat yang saling bersahutan dari balik cungkup makam, menciptakan atmosfer yang menggetarkan batin.
Di sisi lain, hidung akan dimanjakan oleh perpaduan aroma kembang mawar segar, wangi kemenyan yang tipis, serta aroma gurih dari kuliner khas Kaliwungu seperti sumpil yang dijajakan warga di sepanjang jalan.
Keberadaan Jabal Kunthul Nglayang selama bulan Ramadan juga menjadi berkah nyata bagi ekonomi kerakyatan. Jalur setapak yang biasanya sepi berubah menjadi pasar tumpah yang hidup. Para pedagang lokal menggelar lapak-lapak sederhana yang menjual berbagai atribut ibadah hingga panganan tradisional, menciptakan perputaran ekonomi yang membantu kesejahteraan warga sekitar.
Interaksi antara peziarah dan pedagang ini menciptakan sebuah ekosistem sosial yang hangat, di mana setiap orang merasa menjadi bagian dari satu keluarga besar yang sedang merayakan keberkahan bulan suci.
Alasan utama banyak peziarah memilih waktu malam adalah untuk mencari ketenangan sekaligus memanfaatkan waktu luang sembari menunggu tibanya saat sahur.
Di atas bukit tersebut, udara malam yang dingin seolah menjadi penawar bagi dahaga dan lelahnya berpuasa di siang hari. Tradisi ini pun menjadi semacam mukadimah atau awalan yang indah sebelum mencapai puncaknya pada perayaan Syawalan nanti, di mana jutaan orang akan membanjiri tempat ini.
Ziarah ke Jabal Kunthul Nglayang akhirnya bukan hanya tentang mengunjungi makam, melainkan tentang menjaga api sejarah dan spiritualitas agar tetap menyala di hati setiap generasi.
