JAKARTA, CAKRAWALA – Bank Indonesia (BI) resmi merilis laporan evaluasi satu tahun implementasi penuh Digital Rupiah atau Central Bank Digital Currency (CBDC). Dalam laporan tersebut, otoritas moneter mencatat adanya peningkatan efisiensi biaya transaksi antarbank yang signifikan, yakni mencapai 15 persen pada kuartal pertama 2026 dibandingkan dengan metode konvensional.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak sejarah bagi sistem pembayaran nasional. Menurutnya, Digital Rupiah telah berhasil memangkas kompleksitas birokrasi transaksi dan risiko likuiditas yang selama ini menjadi tantangan dalam sistem perbankan tradisional.
“Digital Rupiah bukan sekadar evolusi teknologi, melainkan manifestasi nyata dari kedaulatan moneter Indonesia di era digital. Penurunan biaya operasional sebesar 15 persen ini membuktikan bahwa arsitektur Proyek Garuda yang kita gagas sejak 2022 sangat relevan dalam menjawab tantangan global,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Gedung Thamrin, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Implementasi Teknologi DLT
Lonjakan efisiensi ini didorong oleh penggunaan teknologi Distributed Ledger Technology(DLT) yang memungkinkan proses penyelesaian transaksi (settlement) terjadi secara real-time. Berbeda dengan sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) konvensional, Digital Rupiah mengeliminasi kebutuhan rekonsiliasi manual antar-bank yang sering kali memakan waktu dan biaya tambahan.
Data BI menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga Maret 2026, volume transaksi menggunakan Wholesale Digital Rupiah (w-Digital Rupiah) terus menunjukkan tren positif, terutama untuk transaksi pasar uang dan operasi moneter.
Kilas Balik Proyek Garuda
Secara historis, pengembangan mata uang digital ini merujuk pada White Paper Proyek Garuda yang diluncurkan BI pada 5 Desember 2022. Proyek ini dirancang sebagai respons strategis terhadap masifnya penggunaan aset kripto swasta dan kebutuhan akan instrumen pembayaran yang aman di ruang digital.
Dengan keberhasilan setahun pertama ini, Indonesia kini tercatat sebagai salah satu pemimpin dalam adopsi CBDC di Asia Tenggara, bersaing ketat dengan inisiatif serupa di Singapura dan Australia.
Dampak Bagi Pasar Modal
Para pelaku pasar modal menyambut baik laporan ini. Analis menilai efisiensi di level perbankan akan berdampak pada penurunan biaya dana (cost of fund) yang pada akhirnya dapat mempertebal margin laba bersih sektor perbankan (Big Caps). Selain itu, Digital Rupiah dinilai memberikan stabilitas lebih tinggi terhadap nilai tukar karena BI memiliki kendali penuh atas suplai uang digital di pasar.
“Kejelasan regulasi dan keberhasilan teknis ini memberikan sentimen positif bagi investor asing yang memantau kesiapan infrastruktur finansial digital kita,” tulis laporan riset pasar yang dirilis bersamaan dengan evaluasi BI hari ini.
