Analisis Budaya Opini Pilihan redaksi Regional Serba Serbi
Home » Sepotong Kertas dan Harga Sebuah Ingatan

Sepotong Kertas dan Harga Sebuah Ingatan

Halaman depan rumah-rumah di kampung mulai bersolek. Debu-debu pada gorden disingkap, dan aroma sabun pel menyeruak dari selasar masjid yang baru saja digosok bersama-sama. Di ambang Ramadan, ada semacam kesibukan yang sunyi; sebuah persiapan untuk menyambut bulan suci sekaligus mengenang mereka yang telah tiada. Namun, di antara deru sapu lidi dan cat dinding yang masih basah, sebuah benda kecil terselip di celah pintu atau diletakkan begitu saja di atas meja teras: selembar kertas daftar yang nantinya diisi nama arwah dan sebuah amplop putih yang tipis.

Benda itu hadir seperti tagihan rutin, namun dengan bahasa yang lebih halus. Di dalamnya, kita diminta menuliskan nama-nama ayah, ibu, atau kakek-nenek yang telah berpulang ke haribaan Tuhan. Tujuannya mulia: mengirimkan doa, menghadiahkan Al-Fatihah agar kubur mereka lapang. Tetapi, keberadaan amplop kosong di balik kertas itu seringkali menciptakan getaran yang berbeda di hati. Ia seolah berbisik bahwa doa, dalam birokrasi tradisi kita, ternyata memiliki biaya administrasi.

Saya teringat bagaimana agama dan uang seringkali bersinggungan dalam ruang-ruang yang paling privat sekalipun. Di banyak tempat, fenomena ini menjadi bagian dari sistem kekuasaan kecil di tingkat RT atau pengurus mushola. Ada semacam tekanan sosial yang tak terucap; sebuah perasaan “tidak enak” jika mengembalikan daftar nama tanpa isi di dalam amplopnya. Seolah-olah, jika amplop itu kosong, Al-Fatihah yang dikirimkan akan tertahan di meja panitia, urung melesat menuju langit.

Secara matematis, ini adalah hitungan yang efisien. Jika satu keluarga menyisipkan lembaran lima puluh ribu rupiah—angka yang mungkin dianggap “murah” untuk menebus kerinduan pada orang tercinta—maka dalam satu RT yang berisi enam puluh keluarga, terkumpul uang jutaan rupiah. Dalam skala yang lebih besar, ini adalah penggalangan dana masif yang dibalut dalam ritual spiritual. Uang itu mungkin digunakan untuk mengecat masjid atau membayar listrik, namun cara ia diminta kerap kali menyisakan rasa getir.

Ketidakadilan seringkali terjadi dengan mengatasnamakan apa saja, termasuk agama. Ketika ayat-ayat suci dikaitkan secara langsung dengan nominal uang dalam sebuah amplop, batas antara ketulusan dan transaksi menjadi kabur. Seolah-olah pahala bisa diecer dan keberkahan bisa dibeli dengan harga satu porsi makanan di kedai pinggir jalan. Perang ideologi dan keyakinan pada akhirnya memang seringkali menciptakan pasar dan bisnis baru.

Republik dalam Getar Telepon Dasco

Kita mungkin tidak sedang memperdebatkan apakah doa itu sampai atau tidak. Yang kita saksikan adalah bagaimana sebuah institusi keagamaan mengelola rasa bersalah dan cinta manusia terhadap anggota keluarganya yang sudah mati menjadi sebuah sumber pemasukan. Di balik keriuhan persiapan Ramadan, amplop-amplop putih itu tetap membisu di atas meja, menunggu untuk diisi, sementara di kejauhan, suara anak-anak kecil yang mengaji di mushola terdengar merdu, mencoba mengingatkan kita bahwa koneksi antara manusia dan Tuhan seharusnya tidak butuh perantara biaya administrasi.

Ramadan akan tetap datang, dengan atau tanpa amplop itu. Namun, barangkali kita perlu bertanya kembali: apakah kita sedang merawat tradisi doa, atau sedang melanggengkan sebuah niaga yang menjadikan ayat-ayat Tuhan sebagai komoditas musiman?