SEMARANG, CAKRAWALA – Forum Diskusi Pemerhati Konstitusi (Fordis-PK) Jawa Tengah membuka tahun 2026 dengan langkah progresif. Lembaga pemuda dan mahasiswa ini menggelar pelatihan jurnalistik bagi pemuda, mahasiswa, dan santri se-Semarang Raya di Agaya Cafe and Eatery, Semarang, Sabtu (3/1/2026).
Acara yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB ini dihadiri oleh 70 peserta yang merupakan ketua serta perwakilan organisasi mahasiswa (Ormawa) dan organisasi kepemudaan (OKP). Pelatihan ini bertujuan membekali generasi milenial dan generasi Z dengan kemampuan literasi agar mampu menyaring informasi di tengah derasnya arus disinformasi.
Pentingnya Keberanian dan Integritas
Hadir sebagai pembicara, Bastomi dari Cakrawala Media menekankan bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar profesi, melainkan panggilan keberanian.
“Anak muda yang ingin menjadi wartawan harus memiliki keberanian. Dalam hal investigasi, pasti banyak hambatan maupun rintangan yang harus dilalui demi mengungkap kebenaran,” ujar Bastomi.
Tak hanya soal nyali, Bastomi juga memberikan tips teknis bagi peserta untuk membedakan berita asli dengan hoaks secara sederhana:
“Cara paling mudah adalah dengan mengecek kredibilitas sumbernya. Jika informasi berasal dari situs yang tidak jelas identitas redaksinya atau hanya berupa tangkapan layar tanpa tautan sumber primer, maka patut dicurigai sebagai hoaks. Selalu lakukan cross-check atau verifikasi dengan media arus utama yang sudah terverifikasi Dewan Pers sebelum menyebarkannya,” tambahnya.
Jurnalistik dan Penegakan Konstitusi
Relawan sosial, Munawir, menambahkan bahwa nafas jurnalistik sejatinya selaras dengan gerakan aktivisme. Menurutnya, jurnalisme harus memiliki visi untuk membangun peradaban yang lebih baik di masa depan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Fordis-PK Jawa Tengah, Lawu Mijil Kusuma, menjelaskan alasan kuat mengapa lembaga pemerhati konstitusi memilih isu jurnalistik sebagai program pembuka tahun. Ia menilai banyak isu pelanggaran konstitusi yang saat ini “tenggelam” karena tertutup oleh narasi bohong atau disinformasi di media sosial.
“Kami di Fordis-PK berkomitmen untuk terus membangun sumber daya manusia. Kali ini kami mengangkat isu jurnalistik agar anak muda kembali gemar membaca dan menulis. Penting bagi pemuda untuk paham jurnalistik agar mereka bisa menjaga konstitusi dari upaya pelemahan yang sering kali dikemas melalui berita hoaks di media sosial,” tegas Lawu Mijil.
Pelatihan yang dikemas dengan metode ceramah dan diskusi interaktif ini diharapkan dapat melahirkan agen-agen informasi yang mampu memproduksi konten positif sekaligus menjadi benteng pertahanan terhadap sebaran fake news di Jawa Tengah.

