SEMARANG, CAKRAWALA — Menjelang dimulainya bulan suci Ramadan 1447 H yang jatuh pada pertengahan Februari 2026, Bank Indonesia (BI) memperkirakan kebutuhan uang kartal masyarakat akan mencapai rekor baru sebesar Rp215,7 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan sekitar 9% dibandingkan periode tahun sebelumnya, didorong oleh pemulihan penuh daya beli masyarakat dan percepatan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR).
Konteks Waktu dan Momentum Ekonomi
Berdasarkan ketetapan astronomi, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal ini menempatkan periode konsumsi puncak tepat di akhir kuartal I (Q1) dan awal kuartal II (Q2) 2026.
Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, dalam konferensi pers pekan ini (Februari 2026), menyatakan bahwa momentum Ramadan tahun ini akan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap berada di level 5,1% – 5,3% (yoy). “Injeksi likuiditas dari THR sektor swasta dan ASN yang cair di awal Maret akan menjadi penyokong utama konsumsi rumah tangga,” jelasnya.
Paradoks Belanja dan Pengendalian Inflasi
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa indeks keyakinan konsumen berada di level optimis (di atas 120). Namun, tantangan muncul pada komoditas pangan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam tinjauan lapangan per 16 Februari 2026, menegaskan bahwa stok beras nasional dalam kondisi surplus 1,2 juta ton untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama bulan puasa.
Di sisi lain, pengamat ekonomi Noviardi Ferzi mencatat bahwa inflasi musiman tahun 2026 diprediksi tetap terkendali di kisaran 2,5% ± 1%, berkat efisiensi rantai pasok digital yang semakin matang.
Pergeseran Perilaku Konsumen 2026
Tahun 2026 menandai dominasi belanja berbasis live-streaming dan social commerce. Puncak transaksi belanja terjadi pada jam sahur (03.00 – 05.00 WIB) dengan kategori utama fesyen Muslim dan paket bahan pangan praktis (ready-to-cook).
DATA INDIKATOR RAMADHANNOMICS 2026
| Indikator Ekonomi | Nilai Proyeksi 2026 (Ramadan 1447 H) | Otoritas Sumber |
| Penyediaan Uang Kartal | Rp215,7 Triliun | Bank Indonesia (BI) |
| Prediksi Pertumbuhan Ekonomi (Q1) | 5,2% (yoy) | Kemenkeu / INDEF |
| Estimasi Jumlah Pemudik | 203 Juta Orang | Kemenhub (Proyeksi 2026) |
| Kebutuhan Uang (Banten) | Rp4,1 Triliun | BI Perwakilan Banten |
| Kebutuhan Uang (Jawa Timur) | Rp24,8 Triliun | BI Perwakilan Jatim |
| Target Inflasi (CPI) | 2,5% ± 1% | Sasaran Makro 2026 |
Distribusi Likuiditas: Menjaga Ketersediaan Kas di Luar Jawa
Guna memastikan kelancaran transaksi selama periode Ramadan dan Idulfitri 1447 H, Bank Indonesia (BI) melakukan pemetaan distribusi uang kartal yang tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Berdasarkan data per 17 Februari 2026, koordinasi antar-kantor perwakilan wilayah (KPw) BI menunjukkan kesiapan stok uang tunai di luar Jawa sebagai berikut:
- Wilayah Sumatera: Estimasi kebutuhan uang tunai diprediksi mencapai Rp38,4 Triliun. Sumatera Utara (Medan) dan Riau (Pekanbaru) menjadi titik dengan permintaan tertinggi seiring dengan aktivitas sektor perkebunan dan perdagangan yang meningkat menjelang Lebaran.
- Wilayah Kalimantan: KPw BI Kalimantan Timur mencatat kebutuhan sebesar Rp2,18 Triliun, sementara secara total wilayah Kalimantan diproyeksikan membutuhkan Rp15,7 Triliun. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur turut mendongkrak perputaran uang di sektor jasa dan logistik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
- Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua): Kebutuhan likuiditas di wilayah ini diproyeksikan menembus Rp12,9 Triliun. Fokus utama distribusi berada di Makassar sebagai hub utama kawasan timur Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan sektor ritel yang cukup masif di awal 2026.
- Wilayah Bali dan Nusa Tenggara: Proyeksi kebutuhan mencapai Rp5,5 Triliun, dengan Bali tetap mendominasi seiring dengan lonjakan kunjungan wisatawan domestik pada masa libur panjang yang menyertai Idulfitri.
Strategi Penyaluran “Layanan Kas Keliling”
Sebagai bagian dari strategi operasional, Bank Indonesia melalui Deputi Gubernur BI telah mengaktifkan ribuan titik layanan penukaran uang, termasuk pemanfaatan Kapal Kas Keliling untuk menjangkau wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Kepulauan Riau dan Maluku. Langkah ini diambil untuk memastikan data inflasi di daerah terpencil tetap stabil melalui ketersediaan uang layak edar (ULE) yang cukup.
TABEL PROYEKSI KEBUTUHAN KAS WILAYAH LUAR JAWA (2026)
| Wilayah Regional | Proyeksi Kebutuhan (Rp) | Titik Layanan Penukaran |
| Sumatera (Total) | Rp38,4 Triliun | 860 Titik |
| Kalimantan (Total) | Rp15,7 Triliun | 420 Titik |
| Sulampua (Total) | Rp12,9 Triliun | 315 Titik |
| Bali & Nusa Tenggara | Rp5,5 Triliun | 195 Titik |
