Kepergian Dr. Triyono Lukmantoro S.Sos., M.Si. — akrab dipanggil Mas TL — pada Rabu, 17 Desember 2025 meninggalkan ruang yang tak mudah diisi. Bagi banyak orang di Semarang dan kancah pers nasional, ia bukan sekadar dosen; ia adalah penghubung antara menara akademik dan denyut kehidupan publik: pengajar yang aktif, penulis opini produktif, pembicara yang murah hati, serta sahabat aktivis dan jurnalis. Prinsipnya, bahwa “ilmu harus menjadi cahaya bagi banyak orang”, bukan retorika kosong, melainkan praktik yang ia jalankan sepanjang hidup.
Triyono adalah sosok yang mengajarkan lebih dari teori komunikasi di ruang kuliah Universitas Diponegoro. Dari kiprahnya di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI), hingga tulisan-tulisannya yang beredar di media lokal dan nasional, ia konsisten merawat tradisi intelektual yang rendah hati: menjelaskan, menyederhanakan tanpa mereduksi, dan menempatkan nalar akademik dalam bahasa yang bisa dicerna publik luas. Di zaman ketika media mengalami pergeseran cepat—dari dominasi cetak ke era visual dan platform digital—sikap Triyono untuk menjembatani kedalaman analisis dan aksesibilitas publik menjadi semakin bernilai.
Lebih dari sekadar akademikus, ia adalah contoh keteladanan: aktif memberi bantuan sebagai penceramah, menyusun naskah penelitian, serta mendampingi pekerja media dan organisasi masyarakat sipil. Keahliannya bukan hanya di ranah konseptual, melainkan praktis—membangun solidaritas antara kampus, pers, dan aktivis. Di mata kolega dan muridnya, Triyono selalu bisa diandalkan: tajam dalam kritik, namun rendah hati dalam cara menyampaikan kritik itu.
Warisan pemikirannya relevan untuk mempertanyakan bagaimana akademisi dan penulis opini merespons tantangan era digital. Ketika kecepatan demi perhatian sering mengesampingkan kedalaman dan etika, gagasan Triyono menantang kita untuk tidak mengorbankan kualitas intelektual demi viralitas. Baginya, menjaga tanggung jawab intelektual adalah bagian dari etika profesi — sebuah pesan penting bagi generasi jurnalis dan akademisi yang kini menghadapi kancah informasi yang berubah rupa.
Kita kehilangan bukan hanya seorang pengajar yang piawai, melainkan teladan praktis tentang bagaimana ilmu dapat menjadi pencerah publik. Tulisan-tulisannya, ceramahnya, dan keberpihakannya pada penguatan jurnalisme kritis meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri—dari ruang kelas hingga ruang-ruang diskusi masyarakat sipil. Warisan semacam ini memerlukan perawatan: bukan hanya mengenang, tetapi meneruskan prakarsa-prakarsa yang ia mulai, serta menjaga tradisi diskusi kritis dan keterlibatan akademik di ruang publik.
Sebagai bagian dari penghormatan dan refleksi atas sumbangsihnya, akan diselenggarakan Sarasehan “Mengenang Dr. Triyono Lukmantoro: Refleksi Pemikiran dan Sumbangannya di Dunia Media” yang menempatkan diskusi ini sebagai ruang perjumpaan gagasan—dengan tiga pembicara utama yang merepresentasikan dunia akademik, aktivis, dan jurnalis. Acara ini dijadwalkan pada Senin, 29 Desember 2025, jam 18.30–21.30 WIB di Agaya Eatery and Coffee, Jl. Singosari I No. 21, Pleburan, Semarang; narasumber antara lain Wakil Rektor Undip Wijayanto (akademisi), Wisnu T Hanggoro (aktivis), dan Aris Mulyawan (AJI Semarang), dengan Anto Prabowo dan Renjani P. sebagai moderator.
Bagi pembaca Cakrawala yang mengenal Triyono—secara langsung maupun melalui tulisan-tulisannya—kehilangan ini adalah undangan untuk meneruskan obor yang ia bawa. Mari kita jaga agar ilmu tetap menjadi cahaya, dan agar tradisi menulis yang berani berpikir kritis sekaligus mengutamakan etika terus hidup. Pada akhirnya, penghormatan terbaik bukan sekadar kata-kata belasungkawa, melainkan keberlanjutan gagasan dan tindakan yang menerjemahkan pemikiran Triyono ke dalam praktik jurnalisme dan pengajaran yang lebih baik.
— Untuk keluarga, kolega, dan para muridnya: terima kasih, Mas TL. Cahaya yang Anda nyalakan telah menyentuh banyak orang; semoga ia terus menerangi.
