Opini Pendidikan dan Kebudayaaan
Home » Geometri Secangkir Kopi di Mar-a-Lago

Geometri Secangkir Kopi di Mar-a-Lago

Di sebuah meja marmer yang barangkali terlalu berkilau untuk selera lama, Donald Trump mungkin tidak sedang melihat peta dunia sebagai hamparan sejarah atau benturan peradaban. Bagi lelaki yang tumbuh dari tumpukan cetak biru properti di Queens ini, dunia hanyalah sebuah real estate raksasa yang sedang mengalami salah urus. Dan dia, dengan insting seorang kurator likuiditas, datang bukan untuk menyelamatkannya, melainkan untuk melakukan hostile takeover.

Mari kita bedah apa yang ada di bawah jambul kuning yang legendaris itu. Di sana, tidak ada dialektika Hegel atau romantisme kantian tentang perdamaian abadi. Yang ada adalah aritmatika kolom debit dan kredit.

Trump melihat Ukraina bukan sebagai garis depan demokrasi, melainkan sebagai sebuah aset yang terdepresiasi. Maka, dia mengubah arah angin: bantuan militer yang dulu dianggap hibah “cuma-cuma” oleh kaum liberal di Washington, kini disulapnya menjadi piutang. Ukraina tak lagi sedang mempertahankan tanah air; dalam pembukuan Trump, Kyiv sedang melakukan leveraged buyout atas kedaulatannya sendiri. Senjata-senjata yang dikirim dari pabrik-pabrik di Pennsylvania dan Alabama itu adalah modal yang dipinjamkan, yang bunganya akan ditagih lewat konsesi litium dan tanah hitam chernozem yang subur di masa depan. Di mata Trump, perang adalah cara terbaik untuk mengunci pelanggan selama tiga generasi.

Lalu, pandangannya beralih ke Moskow. Ia membiarkan Putin terus terperosok dalam lumpur atrisi di Donbas. Bukan karena ia benci Putin—Trump tak punya waktu untuk kebencian yang tidak menghasilkan uang—tapi karena Rusia yang sibuk adalah Rusia yang kehilangan pasar. Dan pasar itu adalah Eropa. Dengan putusnya pipa Nord Stream, Trump berhasil melakukan apa yang tak bisa dilakukan perang manapun: ia memindahkan “saklar lampu” Uni Eropa dari Kremlin ke Texas. Sekarang, setiap kali seorang warga Berlin menyalakan pemanas di musim dingin, mereka sedang mentransfer margin keuntungan ke perusahaan LNG Amerika. Eropa telah menjadi “penyewa tetap” yang tak bisa pindah rumah.

Namun, drama yang sesungguhnya terjadi di Teluk. Serangan terhadap Iran dan ketegangan di Selat Hormuz bukanlah sebuah kekeliruan intelijen. Itu adalah strategi disruption. Dengan memacetkan nadi energi di Timur Tengah, Trump sebenarnya sedang mengirimkan tagihan paksa ke Zhongnanhai. China, sang raksasa manufaktur itu, tiba-tiba mendapati bahwa “diskon energi” dari Iran telah menguap. Untuk menjaga pabrik-pabrik di Shenzhen tetap menyala, Beijing terpaksa antre di pasar global yang harganya disetir oleh Amerika. Trump sedang “memajaki” setiap iPhone dan baterai EV yang keluar dari China lewat harga gas. Ia tidak butuh perang tarif di pintu depan jika ia bisa menguasai harga bahan bakar di pintu belakang.

Sidak vs Realita: Benarkah Harga Kebutuhan Pokok di Jateng Sudah ‘Terkendali’?

Dan puncaknya adalah Board of Peace (BoP). Ini adalah mahakarya sinisme politiknya. BoP adalah upaya Trump untuk memindahkan markas besar dunia dari New York yang birokratis ke sebuah struktur yang lebih mirip holding company. Di BoP, suara Anda tidak ditentukan oleh piagam hak asasi, melainkan oleh profil risiko dan volume pembelian senjata. Ia menciptakan sebuah “Kartel Perlindungan”. Jika Anda ingin aman dari drone yang beterbangan atau serangan siber, Anda harus membeli “paket berlangganan” teknologi keamanan Amerika. Keamanan bukan lagi hak, melainkan jasa premium.

Ini adalah dunia yang sangat dingin, sangat mekanis, namun mengerikan dalam logikanya. Trump tidak ingin menaklukkan wilayah. Ia ingin memiliki infrastrukturnya. Ia ingin Amerika menjadi pemilik tunggal atas “Sistem Pengoperasian Dunia”.

Dalam kepala Trump, perdamaian yang adil adalah ilusi para penyair yang bangkrut. Baginya, perdamaian yang sesungguhnya adalah stabilitas di mana semua orang berhutang pada Amerika, semua orang membeli energi dari Amerika, dan semua orang menggunakan sistem keamanan Amerika. Sebuah Pax Americana yang tidak lagi dibangun di atas mimpi, melainkan di atas kontrak yang tak bisa dibatalkan.

Di akhir hari, mungkin Trump benar-benar percaya bahwa ia adalah pembawa damai. Tapi itu adalah damai seorang tuan tanah setelah semua penyewa membayar lunas, dan semua lawan bisnis telah dipaksa menjadi sub-kontraktor. Sebuah dunia di mana keadilan tak lagi ditimbang dengan neraca dewi Themis, melainkan dengan neraca pembayaran (Balance of Payments).

Kita mungkin merinding melihatnya, tapi di Mar-a-Lago, kopi barangkali terasa sangat nikmat pagi ini. Karena akhirnya, dunia mulai terlihat seperti gedung-gedungnya: megah di luar, namun setiap incinya harus dibayar mahal oleh siapa pun yang berani menginjakkan kaki di dalamnya.

VOX POPULI: Gelombang Distrust di Ruang Digital: “Aparat Harusnya Menjaga, Bukan Memangsa”