JAKARTA, Cakrawala – Saham raksasa batu bara, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), menjadi motor penggerak utama sektor energi pada perdagangan Sesi I, Rabu (25/3/2026). Emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim ini mencatatkan kenaikan signifikan di tengah gairah pasar modal yang merespons positif stabilitas harga komoditas global.
Lonjakan Harga dan Volume Jumbo
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BUMI menutup perdagangan Sesi I di level Rp224 per lembar saham, atau melonjak 8,74 persen dari harga penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi pagi, BUMI bergerak sangat atraktif di rentang harga Rp206 hingga Rp232.
Antusiasme investor terlihat dari volume perdagangan yang sangat masif, mencapai 3,98 miliar saham dengan nilai transaksi harian menyentuh Rp885 miliar. Angka ini menempatkan BUMI sebagai salah satu saham dengan nilai transaksi tertinggi di bursa pada paruh pertama perdagangan hari ini.
Analisis Teknikal: Konfirmasi Fase Bullish
Secara teknikal, pergerakan BUMI hari ini mengonfirmasi pola bullish pennant breakout. Harga berhasil menembus titik resisten kuat di level Rp210 yang selama ini menjadi area konsolidasi.
Indikator momentum menunjukkan penguatan tren yang solid. Relative Strength Index (RSI) BUMI saat ini berada di level 72, yang mencerminkan dominasi tekanan beli. Pengukuran RSI ini menggunakan basis perhitungan:

Meskipun mulai mendekati area jenuh beli (overbought), posisi harga yang bertahan di atas Moving Average (MA) 20 dan 50 hari memberikan sinyal bahwa tren penguatan jangka pendek masih memiliki ruang untuk berlanjut menuju target resisten berikutnya di kisaran Rp238 – Rp245.
Faktor Pendorong: Efek Salim dan Proyek Australia
Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penguatan BUMI dipicu oleh kombinasi perbaikan fundamental dan sentimen sektoral.
“Masuknya Grup Salim telah membawa perubahan signifikan pada struktur permodalan BUMI. Efisiensi biaya bunga dan perbaikan balance sheet meningkatkan kepercayaan investor institusi. Selain itu, rencana produksi perdana aset di Australia melalui Jubilee Metals menjadi katalis positif bagi proyeksi pendapatan perseroan ke depan,” jelas Nafan dalam ulasannya.
Di sisi lain, sektor energi secara keseluruhan memimpin penguatan IHSG dengan kenaikan 3,91 persen. Hal ini didorong oleh harga batu bara Newcastle yang tetap stabil di level tinggi serta meredanya tensi geopolitik global di Timur Tengah yang memberikan angin segar bagi aliran modal asing (net foreign buy) ke pasar ekuitas Indonesia.
Proyeksi Sesi IIIHSG sendiri menutup Sesi I dengan penguatan 1,3 persen. Untuk perdagangan Sesi II, pelaku pasar disarankan tetap mencermati potensi aksi ambil untung (profit taking) mengingat kenaikan yang cukup tajam. Namun, selama volume perdagangan tetap terjaga di atas rata-rata harian, peluang BUMI untuk bertahan di zona hijau di atas level Rp220 masih sangat terbuka lebar.
