Indonesia hari ini resmi berada di persimpangan jalan antara revolusi sains dan kerentanan data yang eksistensial. Keberhasilan Kementerian Kesehatan mengintegrasikan 150.000 sampel genomik ke dalam platform Biobank Indonesia per 19 Februari 2026, bukan sekadar prestasi statistik. Ini adalah upaya raksasa untuk memindahkan “cetak biru” manusia Indonesia dari ruang-ruang gelap ketidakpastian menuju cahaya medis yang presisi.
Secara historis, bangsa ini telah lama menjadi objek riset tanpa pernah benar-benar menjadi subjek yang berdaulat. Pengalaman pahit sengketa sampel virus flu burung satu dekade silam adalah pengingat bahwa di pasar global, data biologis adalah komoditas yang lebih berharga daripada emas. Biobank hadir sebagai jawaban untuk memutus ketergantungan kita pada riset asing yang sering kali tidak relevan dengan profil genetik nusantara.
Namun, di balik optimisme pengobatan kanker dan diabetes yang dipersonalisasi, terbentang ancaman yang nyata. Peringatan keras yang disampaikan oleh pakar keamanan siber, Pratama Persadha (Chairman CISSReC), dalam diskusi panel di HI Kempinski, Jakarta, Kamis pagi tadi (19/2), menjadi alarm yang tidak boleh diabaikan.
“Jika data genomik ini bocor, kita tidak hanya kehilangan privasi, kita kehilangan kendali atas rahasia biologis bangsa kita selamanya,” tegas Pratama.
Kekhawatiran ini valid. Berbeda dengan data perbankan yang bisa diblokir atau NIK yang bisa diperbarui, kode genetik adalah identitas permanen. Retakan kecil saja pada enkripsi di Pusat Data Nasional (PDN) atau kelalaian pada software pihak asing dalam mesin-mesin sequencing DNA, dapat membuka pintu bagi diskriminasi asuransi massal hingga potensi pengembangan senjata biologis di masa depan.
CAKRAWALA memandang bahwa transparansi adalah satu-satunya obat bagi skeptisisme publik. Pemerintah tidak boleh hanya menjajakan mimpi tentang kesehatan gratis dan pengobatan canggih melalui BPJS, tanpa mampu menjamin bahwa “benteng” data ini benar-benar tidak bisa ditembus.
Kita mendukung kemajuan sains, namun kita menolak kemajuan yang mengabaikan kedaulatan. Biobank harus menjadi aset nasional yang dilindungi dengan standar keamanan militer, diawasi oleh lembaga independen, dan dijalankan dengan prinsip integritas tanpa kompromi. Jangan sampai niat mulia membangun perpustakaan masa depan justru berakhir menjadi belenggu yang mengancam privasi anak cucu kita.
